MASALAH KEPENDUDUKAN DI NEGARA INDONESIA
1.PENDAHULUAN
Dari hasil sensus penduduk tahun 2010
jumlah penduduk Indonesia adalah
237,641,326 Juta. Berarti Indonesia termasuk negara terbesar ke empat di
dunia.
Bila dilihat dari luas wilayah pada
peta penyebaran penduduknya terlihat
tidak merata di 33 propinsi.
Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010 sekitar
70% penduduk tinggal di pulau Jawa,
padahal luas pulau Jawa hanya 7% dari luas
wilayah Indonesia. Dilain pihak pulau
Kalimantan yang luas wilayahnya hanya
ditempati oleh 5% dari jumlah penduduknya.
Kondisi tersebut menunjukan bahwa
kepadatan penduduk Indonesia tidak
seimbang. Kondisi tersebut memerlukan
upaya pemerataan dan upaya tersebut telah
dilaksanakan melalui program
transmigrasi dan gerakan kembali ke Desa.
Dilihat dari tingkat pertambahan
penduduknya Indonesia masih tergolong
tinggi, hal ini bila tidak diupayakan
pengendalianya akan menimbulkan banyak
masalah.Dampaknya terhadap pendapatan
perkapita yang pada
gilirannya akan berpengaruh terhadap
kualitas hidup. Juga terhadap kehidupan
rumah tangga seperti perceraian dan
perkawinan yang akan berpengaruh terhadap
angka kelahiran dan kematian yang
dalam banyak hal dijadikan indikator bagi
kesejahteraan suatu negara.
Nampaknya sederhana, tetapi harus
diingat bahwa manusia adalah sebagai
subjek tetapi juga sekaligus objek
pembangunan sehingga bila tidak diantisipasi
mungkin pada gilirannnya akan
berakibat ketidakstabilan atau kerapuhan suatu
negara.
2. MASALAH KEPENDUDUKAN DI INDONESIA
Masalah Akibat
Angka Kelahiran
1. Total Fertility Rate (TFR)
Hasil perkiraan tingkat fertilitas
(metode anak kandung) menunjukan bahwa
penurunan tingkat fertilitas
Indonesia tetap berlangsung dengan kecepatan yang
bertambah seperti nampak pada tabel
di bawah ini :
Periode (tahun) TFR % Penurunan/tahun
1967 -1970 5,605 1,7
1971 -1975 5,200 2,3
1976 -1979 4,680 2,8
1980 -1984 4,055 3,9
1987 -1990 3,222 2,1
1991 -2000 206,264,595
2001 - 2010 237,641,326
Sumber : http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=12¬ab=1
Sumber : http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=12¬ab=1
Namun demikian terjadi pergeseran ke
kelompok umur (25 -29) tahun pada hasil SP80 dan ini akan memberikan dampak
terhadap penurunan tingkat gfertilitas secara keseluruhan.
Berdasarkan dua kondisi di atas
dapatlah disebutkan beberapa masalah (terkait
dengan SDM) sebagai berikut :
1) Jika fertilitas semakin meningkat
maka akan menjadi beban pemerintah dalam hal
penyediaan aspek fisik misalnya
fasilitas kesehatanketimbang aspek intelektual.
2) Fertilitas meningkat maka
pertumbuhan penduduk akan semakin meningkat tinggi
akibatnya bagi suatu negara
berkembang akan menunjukan korelasi negatif
dengan tingkat kesejahteraan penduduknya.
B. Masalah akibat Angka Kematian
Masalah yang muncul akibat tingkat
mortalitas adalah :
1) Semakin bertambahnya Angka Harapan
Hidup itu berarti perlu adanya peran
pemerintah di dalam menyediakan
fasilitas penampungan.
2) Perlunya perhatian keluarga dan
pemerintah didalam penyediaan gizi yang
memadai bagi anak-anak (Balita).
3) Sebaliknya apabila tingkat
mortalitas tinggi akan berdampak terhadap reputasi
Indonesia dimata dunia.
Pemecahan masalah angka kelahiran dan
kematian :
a) Kelahiran Angka kelahiran perlu
ditekan melalui :
ü Partisipasi wanita dalam program KB.
ü Tingkat pendidikan wan ita wanita mempengaruhi umur kawin
pertama dan
penggunaan
kontrasepsi.
ü
Partisipasi dalam angkatan kerja
mempunyai hubungan negatif dengan
fertilitas.
ü Peningkatan ekonomi dan sosial.
b) Kematian angka kematian perlu ditekan
:
ü
Pelayanan kesehatan yang lebih baik
ü
Peningkatan gizi keluarga
ü
Peningkatan pendidikan (Kesehatan
Masyarakat)
C. Masalah Komposisi Jumlah Penduduk
Masalah-masalah yang dapat timbul
akibat keadaan jumlah penduduk adalah :
1) Aspek ekonomi dan pemenuhan
kebutuhan hidup keluarga.
Banyaknya beban
tanggungan yang harus dipenuhi biaya
hidupnya oleh sejumlah manusia
produktif yang lebih sedikit akan mengurangi
pemenuhan kebutuhan ekonomi
dan hayat hidup.
2) Aspek pemenuhan gizi.
Kemampuan ekonomi yang kurang dapat
pula berakibat pada pemenuhan
makanan yang dibutuhkan baik jumlah
makanan (kuantitatif) sehingga dampak
lebih lanjut adalah adanya rawan atau
kurang gizi (malnutrition). Pada gilirannya
nanti bila kekurangan gizi terutama
pada usia muda ( 0 -5 tahun). Akan
mengganggu perkembangan otak bahkan
dapat terbelakang mental ( mental
retardation ). Ini berarti mengurangi
mutu SDM masa yang akan datang.
3) Aspek Pendidikan
Pendidikan memerlukan biaya yang
tidak sedikit, sehingga diperlukan dukungan
kemampuan ekonomi semua termasuk
orang tua. Apabila kemampuan ekonomi
kurang mendukung maka fasilitas
pendidikan juga sukar untuk dipenuhi yung
mengakibatkan pada kualitas
pendidikan tersebut kurang.
4) Lapangan Kerja
Penumpukan jumlah penduduk usia muda
atau produktif memerlukan persiapan
lapangan kerja masa mendatang yang
lebih luas. Hal ini merupakan bom waktu
pencari kerja atau penyedia kerja.
Apabila tidak dipersiapkan SDMnya dan
lapangan kerja akan berdampak lebih
buruk pada semua aspek kehidupan.
Alternatif Pemecahan yang diperlukan
:
(a) Pengendalian angka kelahiran
melalui KB.
(b) Peningkatan masa pendidikan.
(c) Penundaaan usia perkawinan.
D. Masalah Kependudukan dan Angkatan Kerja.
jauh tidak seimbang hal ini
kemungkinan dapat menyebabkan
masalah antara lain:
(a) Produktifitas yang dihasilkan
oleh sebagian kecil manusia kemungkinan bisa
habis dikonsumsi sebagian besar penduduk.
(b) Pendapatan perkapita akan rendah
sehingga berpengaruh pada sektor ekonomi
masyarakat.
Alternatif Pemecahan Masalah :
(a) Penyediaan lapangan kerja
(b) Peningkatan mutu SDM melalui
pendidikan dan keterampilan.
E. Masalah Mobilitas Penduduk di Indonesia
Masalah
migrasi penduduk di Indonesia menjadi isu politik kependudukan di
Indonesia.
Mobilitas antar pulau didominasi mobilitas penduduk di Pulau Jawa.
Dapat
dimaklumi bahwa Pulau Jawa sebagai tujuan utama para migran,
karena
di Pulau Jawa merupakan pusat perekonomian, pusat pendidikan, pusat
pemerintahan
dan pusat kegiatan sosial ekonomi lainnya. Migran terbesar yang
masuk
ke Pulau Jawa berasal dari Sumatera, karena Pulau Sumatera secara
geografis
berdekatan dengan Pulau Jawa dan sistim transportasi yang
menghubungkan
kedua pulau ini lebih bervariasi dan lebih banyak frekuensinya
dibandingkan
dengan pulau-pulau lainnya.
Mobilitas
Penduduk antar Pulau Propinsi
Pola
mobilitas di Jawa masih sangat besar. Di Jawa Timur jumlah pendatang
masih
didominasi migran sekitarnya terutama Jawa Tengah. Keadaan ini
menunjukan
bahwa pekembangan mobilitas terjadi karena peningkatan peranan lalu
lintas
di Pulau Jawa dan Sekitarnya termasuk Lampung, Sumatera Selatan sebagai
akibat
pertumbuhan ekonomi yang semakin cepat. Sedang migran yang keluar dari
Jawa
Timur mayoritas menuju wilayah Indonesia Barat terutama Sumatera dan
daerah
pusat pertumbuhan ekonomi seperti Jakarta.
Mobilitas Penduduk dari Desa ke Kota
Urbanisasi
pada dasarnya adalah pertumbuhan penduduk perkotaan yang
disebabkan
perpindahan dari desa ke kota, dari kota ke kota, serta akibat proses
perluasan
wilayah perkotaan (Reklamasi).
Permasalah
yang Timbul :
Pertumbuhan
penduduk perkotaan selalu menunjukan peningkatan yang
terus
menerus, hal ini disebabkan pesatnya perkembangan ekonomi dengan
perkembangan
industri, pertumbuhan sarana dan prasarana jalan perkotaan.
Upaya
Pencegahan:
Menurut
Prigno Tjiptoheriyanto upaya mempercepat proses pengembangan
suatu
daerah pedesaan menjdadi daerah perkotaan yang disesuaikan dengan
harapan
dan kemampuan masyarakat setempat. Untuk itu diperlukan upaya
peningkatan
jumlah penduduk yang berminat tetap tinggal di desa. Yang perlu
diusahakan
perubahan status desa itu sendiri, dari desa "desa rural" menjadi
"desa
urban".
Dengan demikian otomatis penduduk yang tinggal didaerahnya menjadi
"orang
kota" daalam arti statistik. Guna
menekan
derasnya arus penduduk dari desa ke kota, maka pola pembangunan yang
beroreantasi
pedesaan perlu digalakan dengan memasukan fasilitas perkotaan ke
pedesaan,
sehingga merangsang kegiatan ekonomi pedesaan.
F. Masalah Kepadatan Penduduk di Indonesia
Ketidakseimbangan kepadatan penduduk
ini mengakibatkan ketidakmerataan
pembangunan baik phisik maupun non
phisik yang selanjutnya mengakibatkan
keinginan untuk pindah semakin
tinggi. Arus perpindahan penduduk biasanya
bergerak dari daerah yang agak
terkebelakang pembangunannya ke daerah yang
lebih maju, sehingga daerah yang
sudah padat menjadi semakin padat.
Pemecahan Masalah:
Untuk memecahkan masalah ini
dilaksanakan program pepindahan penduduk
dari daerah padat ke daerah
kekurangan penduduk, yaitu program transmigrasi.
Sasaran utama program transmigrasi
semula adalah untuk mengurangi
kelebihan penduduk di Pulau Jawa.
Tetapi ternyata jumlah penduduk yang berhasil di
transmigrasikan keluar Jawa sangat
kecil jumlahnya.
G. Masalah Perkawinan dan Perceraian
Perkawinan bukan merupakan komponen
yang langsung mempengaruhi
pertumbuhan penduduk akan tetapi
mempunyai pengaruh yang cukup besar
terhadap fertilitas, karena dengan
adanya perkawinan dapat meningkatkan angka
kelahiran. Sebaliknya perceraian
adalah merupalkan penghambat tingkat fertilitas
karena dapat menurunkan angka kelahiran.
JENIS KELAMIN KAWIN CERAI HIDUP/MATI
Masalah yang timbul akibat perkawinan
antara lain:
1. Perumahan
2. Fasilitas kesehatan
Masalah yang timbul akibat perceraian
meningkat adalah :
1. Sosial Ekonomi
2. Nilai agama yang lemah
Alternatif Pemecahan :
Perkawinan :
1. Menambah masa lajang.
2. Meningkatkan masa pendidikan.
Peceraian :
1. Konsultasi Keluarga.
2. Pendalaman Agama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar